EVENT / PROMO
PRODUCT CATEGORY
News
View All"Brain Rot", Istilah Kekinian akibat Kecanduan Konten Receh di Medsos!
“Brain Rot” Jadi Word of The Year 2026, Dampak Scroll Tanpa Henti di Media Sosial
Kebiasaan scrolling media sosial tanpa tujuan ternyata memiliki istilah tersendiri, yaitu brain rot. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang mengonsumsi konten digital secara berlebihan hingga berdampak pada penurunan kualitas berpikir.
Oxford University Press (OUP) resmi menetapkan brain rot sebagai Word of The Year setelah dipilih oleh lebih dari 37.000 partisipan melalui polling publik dan analisis bahasa.
Secara definisi, brain rot merujuk pada kemunduran intelektual yang terjadi akibat terlalu sering mengonsumsi konten online yang ringan, tidak menantang, dan cenderung repetitif.
Penggunaan Meningkat Drastis
Menurut OUP, penggunaan istilah ini meningkat hingga 230 persen dibandingkan sebelumnya. Meski terdengar modern, istilah ini sebenarnya sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu.
Istilah brain rot pertama kali digunakan oleh Henry David Thoreau dalam bukunya Walden, saat ia mengkritik kecenderungan masyarakat yang lebih memilih ide sederhana dibanding pemikiran yang kompleks.
Fenomena di Era Digital
Di era media sosial saat ini, istilah brain rot kembali relevan. Banyak pihak mulai mengkhawatirkan dampak konsumsi konten berkualitas rendah yang berlebihan, terutama di platform digital.
Beberapa gejala yang sering dikaitkan dengan kondisi ini antara lain:
Kabut mental (mental fog):
1. Kelelahan kognitif
2. Penurunan fokus
3. Berkurangnya kemampuan berpikir kritis
Bahkan, sebuah klinik kesehatan perilaku di Amerika Serikat dilaporkan mulai menawarkan terapi khusus untuk mengatasi kondisi ini.
Peran Generasi Muda
Menurut Presiden OUP, Casper Grathwohl, istilah ini banyak diadopsi oleh generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha. Kedua generasi ini dianggap paling dekat dengan budaya digital sekaligus paling aktif dalam mengonsumsi dan menciptakan konten.
Perlu Digital Balance
Fenomena brain rot menjadi pengingat penting akan dampak penggunaan teknologi yang tidak terkontrol. Membatasi waktu layar, mengurangi konsumsi konten tidak produktif, serta melakukan digital detox menjadi langkah yang disarankan untuk menjaga kesehatan mental dan kognitif.
Teka-teki Satoshi Nakamoto, Sosok Pencipta Bitcoin Mulai Terungkap?
Identitas Pencipta Bitcoin Kembali Disorot, Adam Back Disebut sebagai Satoshi Nakamoto
Identitas asli pencipta Bitcoin hingga kini masih menjadi misteri. Nama Satoshi Nakamoto yang dikenal publik diyakini hanyalah sebuah pseudonim.
Laporan terbaru dari The New York Times kembali memicu spekulasi dengan menyebut Adam Back sebagai sosok di balik nama tersebut. Back merupakan CEO dari Blockstream sekaligus kriptografer yang sudah lama dikenal dalam komunitas Bitcoin.
Analisis dan Dugaan Baru
Jurnalis John Carreyrou, yang sebelumnya terkenal karena mengungkap skandal Theranos, menyampaikan sejumlah argumen yang mendukung dugaan ini.
Dalam investigasinya, ditemukan kemiripan gaya bahasa, ejaan, serta pola komunikasi antara tulisan Adam Back dan Satoshi Nakamoto di forum-forum awal Bitcoin. Selain itu, keduanya juga memiliki kesamaan waktu aktivitas online.
Back juga diketahui terlibat dalam pengembangan Hashcash, sebuah sistem “proof-of-work” yang menjadi dasar penting dalam mekanisme penambangan Bitcoin.
Meski demikian, Adam Back bukan satu-satunya kandidat yang pernah disebut sebagai Satoshi. Nama lain seperti Hal Finney dan Nick Szabo juga pernah masuk dalam daftar spekulasi.
Bahkan, dokumenter HBO tahun 2024 berjudul Money Electric: The Bitcoin Mystery sempat menunjuk Peter Todd sebagai sosok di balik Bitcoin.
Bantahan dari Adam Back
Menanggapi laporan tersebut, Adam Back kembali membantah klaim yang menyebut dirinya sebagai Satoshi Nakamoto. Melalui pernyataannya di platform X, ia menegaskan bahwa dirinya bukan pencipta Bitcoin.
Perusahaan yang dipimpinnya, Blockstream, juga menyatakan bahwa laporan tersebut hanya berdasarkan interpretasi dan spekulasi, tanpa bukti kriptografis yang kuat.
Tidak Berpengaruh pada Bitcoin
Di sisi lain, komunitas kripto menilai bahwa siapa pun sosok di balik Satoshi Nakamoto tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap nilai maupun operasional Bitcoin.
Sejak diluncurkan lebih dari satu dekade lalu, Bitcoin telah berkembang menjadi sistem yang terdesentralisasi dan berjalan independen, tanpa bergantung pada identitas penciptanya
Instagram Uji Fitur Lihat IG Stories Tanpa Ketahuan!
Instagram Uji Coba Fitur Berbayar “Instagram Plus”, Bisa Lihat Story Tanpa Ketahuan
Meta Platforms mulai menguji layanan langganan baru di Instagram bernama Instagram Plus. Fitur ini memungkinkan pengguna mendapatkan pengalaman tambahan, termasuk melihat Instagram Stories secara diam-diam tanpa diketahui pemilik akun.
Uji coba saat ini dilaporkan berlangsung di tiga negara, yaitu Filipina, Jepang, dan Meksiko. Sejumlah pengguna di wilayah tersebut sudah mulai melihat opsi berlangganan dengan harga berkisar antara 1,07 hingga 2,20 dolar AS per bulan (sekitar Rp18.000 – Rp37.000).
Fokus pada Fitur Stories
Instagram Plus difokuskan pada pengembangan fitur Stories, yaitu konten yang akan hilang dalam 24 jam. Langkah ini sejalan dengan tren penggunaan Stories yang terus meningkat dibandingkan feed utama.
Salah satu fitur utama yang ditawarkan adalah kemampuan untuk melihat Stories secara anonim. Dengan fitur ini, pengguna dapat membuka Story tanpa meninggalkan jejak pada daftar penonton.
Fitur Tambahan untuk Pengguna Berbayar
Selain mode anonim, pelanggan Instagram Plus juga mendapatkan sejumlah fitur tambahan, antara lain:
Melihat jumlah penayangan ulang (replay) pada Stories
Mengakses daftar penonton secara lebih detail
Memperpanjang durasi Stories hingga 48 jam
Memberikan “Superlike” untuk meningkatkan interaksi
Meningkatkan visibilitas satu postingan per minggu melalui fitur Spotlight
Membuat beberapa daftar audiens khusus (pengembangan dari fitur Close Friends)
Fitur-fitur ini menunjukkan upaya Meta dalam meningkatkan personalisasi dan kontrol pengguna terhadap konten yang dibagikan.
Masih Tahap Uji Coba
Sebelumnya, Meta juga telah menghadirkan layanan berbayar seperti Meta Verified sejak 2023, yang menawarkan centang biru berbayar untuk Instagram dan Facebook.
Namun, untuk Instagram Plus, perusahaan masih dalam tahap evaluasi. Belum ada kepastian apakah layanan ini akan dirilis secara global atau tetap terbatas pada uji coba.
Jika resmi diluncurkan, Instagram Plus berpotensi menjadi langkah baru dalam monetisasi platform sekaligus mengubah cara pengguna berinteraksi dengan fitur Stories.
Tren Charger Praktis 2026: Adapter GaN dengan Kabel Tarik Jadi Solusi Mobilitas Tinggi!
Kebutuhan akan perangkat pengisian daya yang ringkas dan efisien semakin meningkat seiring gaya hidup yang semakin mobile. Menjawab tren tersebut, adapter berbasis Gallium Nitride (GaN) kini mulai menjadi standar baru dalam industri aksesoris gadget, termasuk melalui kehadiran adapter dengan kabel tarik (retractable cable).
Salah satu inovasi yang mulai banyak diadopsi adalah adapter 45W dengan kombinasi port USB-A dan USB-C yang dilengkapi kabel bawaan yang dapat ditarik. Desain ini menghilangkan kebutuhan membawa kabel tambahan, sekaligus meningkatkan kepraktisan saat digunakan di berbagai situasi, seperti perjalanan, kerja, maupun aktivitas harian.
Dari sisi fungsi, penggunaan teknologi GaN memungkinkan ukuran adapter menjadi lebih kecil tanpa mengorbankan performa. Daya hingga 45W dinilai cukup untuk mengisi berbagai perangkat, mulai dari smartphone, tablet, hingga beberapa laptop ringan. Selain itu, efisiensi energi yang lebih tinggi juga membantu mengurangi panas berlebih saat proses charging berlangsung.
Fitur retractable cable menjadi nilai tambah yang signifikan. Dengan mekanisme tarik otomatis, pengguna dapat mengatur panjang kabel sesuai kebutuhan dan menyimpannya kembali tanpa risiko kusut. Hal ini relevan ?????? bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang membutuhkan solusi praktis dan rapi dalam satu perangkat.
Dari sisi keamanan, adapter modern kini juga dilengkapi sistem perlindungan suhu dan pengendalian panas. Teknologi ini bekerja dengan sensor internal untuk menjaga suhu tetap stabil, sehingga mengurangi risiko overheating yang sering menjadi perhatian pada perangkat fast charging.
Penggunaan dual port (USB-A dan USB-C) juga memberikan fleksibilitas lebih. Pengguna dapat mengisi dua perangkat sekaligus tanpa harus bergantian, yang menjadi kebutuhan umum di era multi-device seperti sekarang.
Secara keseluruhan, perkembangan adapter GaN dengan desain all-in-one menunjukkan arah baru dalam industri aksesoris: lebih ringkas, lebih cepat, dan lebih praktis. Produk dengan kombinasi performa tinggi dan desain fungsional seperti ini diperkirakan akan menjadi pilihan utama konsumen dalam beberapa tahun ke depan.
Asal-usul Nama “Bluetooth”, Ada Kaitannya dengan Raja Viking dan “Gigi Biru”!
Di era sekarang, rasanya hampir mustahil tidak mengenal Bluetooth. Teknologi konektivitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari smartphone, headset, hingga smartwatch.
Meski sangat populer, tidak banyak yang mengetahui asal-usul nama dan logo Bluetooth. Ternyata, keduanya memiliki cerita unik yang berkaitan dengan sejarah Viking.
Makna di Balik Nama Bluetooth
Secara harfiah, Bluetooth berarti “gigi biru”. Nama ini bukan sekadar istilah teknis, melainkan diambil dari sosok Raja Viking bernama Harald Bluetooth (Harald “Blåtand” Gormsson).
Ia memerintah Denmark dan Norwegia sekitar tahun 958–985 dan dikenal karena berhasil menyatukan kedua wilayah tersebut. Julukan “Blåtand” sendiri berarti “gigi biru”, yang konon merujuk pada kondisi giginya yang berwarna gelap kebiruan.
Arti Logo Bluetooth
Logo Bluetooth yang ikonik juga memiliki makna historis. Simbol tersebut merupakan gabungan dua huruf rune dari alfabet Skandinavia kuno, yaitu “Hagall” (H) dan “Bjarkan” (B).
Kedua huruf ini merepresentasikan inisial Harald Bluetooth, sehingga logo tersebut secara langsung merujuk pada sosok yang menjadi inspirasi nama teknologi ini.
Diusulkan oleh Industri Teknologi
Nama Bluetooth pertama kali diusulkan pada tahun 1996 oleh Jim Kardach, seorang insinyur dari Intel. Saat itu, ia bersama perwakilan dari Ericsson dan Nokia sedang mengembangkan standar teknologi komunikasi nirkabel jarak pendek.
Nama “Bluetooth” awalnya hanya digunakan sebagai kode sementara. Namun, karena alternatif lain seperti “RadioWire” dan “PAN” (Personal Area Networking) menghadapi kendala merek dagang, akhirnya nama Bluetooth dipilih secara resmi.
Relevan Hingga Sekarang
Filosofi di balik nama Bluetooth ternyata cukup relevan. Seperti Raja Harald yang menyatukan wilayah, teknologi Bluetooth juga bertujuan menyatukan berbagai perangkat dari industri yang berbeda melalui koneksi nirkabel.
Hingga saat ini, Bluetooth tetap menjadi standar utama untuk konektivitas jarak pendek tanpa kabel dan terus berkembang mengikuti kebutuhan teknologi modern.
